Jumat, 05 Mei 2017

Ini Budi, Ini Bapak Budi...: Mengapa Orang NTT Harus Menulis?


Foto: Koleksi pribadi.

Ada begitu banyak tulisan di internet atau buku tentang tips menulis secara benar, tepat, cepat dan sebagainya. Semua tips menulis yang ditawarkan itu, tentu berdasarkan pengalaman nyata. Ada pengalaman menulis, ada refleksi sehingga ada tips. Omong kosong kalau seseorang menawarkan tips menulis dan dia tidak pernah menulis. Omong kosong kalau seseorang menawarkan tips menulis dan dia tidak pernah menghasilkan sebuah karya tulis.

Saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana harus menulis, memulai dari mana, menulis tentang apa dan sebagainya. Biasanya saya menjawab seadanya saja berdasarkan pengalaman saya. Saya mengatakan ‘menjawab seadanya saja’, karena memang tak mungkin saya harus menjelaskan tentang niat, motivasi, visi dan misi dan sebagainya. Itu sebuah diskusi yang panjang. Saya juga tidak harus menjelaskan tentang hal-hal mendasar lainnya seperti situasi seperti mood-tidak mood; ada rokok-tidak ada rokok; kenyang atau lapar; jatuh cinta atau putus cinta dan lain sebagainya.

Pertanyaan pada judul di atas dilontarkan oleh seorang teman ketika kami minum kopi bersama. Pertanyaan itu muncul ketika saya membuat sebuah pernyataan dengan mengatakan “Kita orang NTT harus menulis". Teman saya itu spontan bertanya, “Mengapa (kita) orang NTT harus menulis?"

Untuk menjawab pertanyaannya itu, saya mengajaknya meghitung jumlah sekolah dan jumlah perguruan tinggi di kabupaten Timor Tengah Utara. Ini hanya satu kabupaten saja di NTT, belum NTT seluruhnya. Anggaplah di satu kabupaten tersebut, ada 50 Sekolah Dasar, 50 Sekolah Menengah Pertama, 50 Sekolah Menengah Atas dan 5 perguruan tinggi.

Di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi itu, tentu ada siswa, mahasiswa, guru dan dosen. Anggaplah ada 2.000 orang siswa, 1.000 orang mahasiswa, 500 orang guru dan 200 orang dosen. Setiap hari, selama bertahun-tahun, di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi tersebut, ada aktivitas belajar-mengajar. Aktivitas belajar-mengajar tentu membutuhkan buku. Pertanyaan lanjutannya tentu banyak sekali. Apakah ada buku? Berapa jumlah buku? Buku yang ditulis oleh siapa? Berapa orang yang menulis buku? Apa isi buku itu? Buku yang ditulis di mana? (Ini belum termasuk ceritera tentang harga buku, toko buku, penerbit buku, percetakan buku dan embel-embel lain).

Jawaban lain, seluruh masyarakat NTT yang pernah sekolah; tentu pernah membaca sebuah buku wajib. Dalam buku wajib itu, ada nama-nama tokoh yang tidak akan hilang dari ingatan sepanjang hidup. Nama-nama tokoh itu adalah Budi, bapak Budi dan ibu Budi. Kalau tidak salah ingat, dalam buku itu juga, ada gambaran tentang aktivitas keluarga Budi itu. “Budi bermain di halaman rumah.” “Bapak Budi membaca koran.” “Ibu Budi menanak nasi.”(Ketika masih kanak-kanak, pada umur tertentu, saya pernah sadar; ternyata Budi, bapak Budi dan ibu Budi itu orang Jawa).

Tentang aktivitas keluaga Budi yang notabene adalah ‘Orang Jawa’ tersebut, saya pernah berpikir nakal. Begini, ketika masih sekolah SD, saya sulit membayangkan halaman rumah. Saya lebih gampang membayangkan lopo tempat saya bermain kelereng, daripada halaman rumah. Saya tidak pernah melihat bapak saya membaca koran. (Jangankan bapak saya duduk pangku kaki di kursi kayu dengan rokok kretek di tangan, kopi hitam dia tas meja, pangku kaki sambil membaca koran, korannya saja saya tidak pernah lihat.) Dahulu kami jarang makan nasi, maka kami jarang melihat ibu kami menanak nasi)

Atas dasar itulah, maka saya membuat pernyataan tadi “Kita (orang) NTT harus menulis”.

Share:
Posting Komentar